Jumat, 09 September 2011

BAHAN PAKAN KONSENTRAT TERNAK SAPI POTONG


A.     Latar Belakang
Kabupaten Pati hingga akhir 2005 memiliki jumlah penduduk 1.224.867 jiwa, dengan luas wilayah sekitar 1.503,68 km2 .  Kabupaten Pati adalah daerah agraris, dengan potensi subsektor peternakan merupakan bagian dari pertanian secara umum, tersebar merata.  Potensi peternakan tersebut meliputi ternak besar (sapi potong, sapi perah, dan kerbau), ternak kecil (kambing dan domba), ternak unggas (ayam buras, ayam ras petelur, dan pedaging), ternak hobi (burung ocean, dan lain-lain).  Berkembangnya potensi peternakan didukung dengan tersedianya bahan pakan ternak, baik berupa pertanian maupun limbah industri (Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Pati, 2006).  
Potensi ternak sapi potong di Kabupaten Pati lebih besar daripada sapi perah.  Jumlah populasi ternak sapi potong di Kabupaten Pati 63.995 ekor, dengan jumlah peternak 36.389 orang, sedangkan jumlah populasi ternak sapi perah 194 ekor dengan jumlah peternak 25 orang (Pemerintah Kabupaten Pati, 2006).       
Potensi pakan ternak yang terdapat di Kabupaten Pati:
1.       Hijauan segar, rumput unggul dan daun-daun.
2.       Limbah pertanian, seperti: jerami padi, kulit kacang, bungkil kacang, dan sebagainya.
3.       Limbah industri, seperti: kulit kopi, ampas ketela pohon, ampas tahu, molase/tetes tebu, dan sebagainya.
Agar persoalan mengenai pakan dapat dipecahkan, kita didorong untuk berpikir kreatif dan berusaha menggali segala potensi yang ada guna memecahkan persoalan tersebut diantaranya dengan memanfaatkan potensi pakan lokal sebagai pakan ternak.  Pakan lokal tersebut tentu saja harus memenuhi kriteria baik di tinjau dari aspek nutrisi, ekonomi, sosial budaya, dan haruslah pula memperhatikan tingkat keberlanjutannya sehingga dapat menjadi sumber bahan pakan yang terus tersedia, murah, mudah didapatkan, tidak menimbulkan polusi, dan masih sesuai dengan budaya masyarakat, sehingga mudah untuk diterima di kalangan masyarakat tersebut (Marhadi, 2009).


A.       Pakan
Pakan adalah semua bahan yang dapat dimakan dan dicerna seluruh atau sebagian tanpa mengganggu kesehatan seekor ternak yang bersangkutan (Anggorodi, 1984). Sedangkan menurut Surachman (1996), bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat diberikan kepada ternak tanpa mengganggu kesehatan ternak yang memakannya.  Zat pakan adalah sebagian dari bahan pakan yang dapat dicerna/diserap dan bermanfaat bagi tubuh untuk memenuhi kebutuhan tubuh.  Terdapat enam macam zat pakan yaitu air, mineral, karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin.  Ransum adalah bahan pakan atau campuran beberapa bahan pakan yang disusun untuk memenuhi zat pakan bagi ternak tersebut selama 24 jam.  Kebutuhan zat pakan terdiri dari kebutuhan untuk hidup pokok, kebutuhan, dan atau kebutuhan untuk reproduksi.  Bagi peternak sapi potong, ransum dapat berupa pakan hijauan dan pakan konsentrat.  Hijauan dapat merupakan golongan rumput-rumputan dan leguminosa (Surachman, 1996).  Konsentrat merupakan campuran berbagai bahan makanan yang berupa umbi-umbian, hasil pertanian, sisa hasil pabrik, dan lain-lain yang mempunyai nilai gizi cukup dan mudah dicerna sapi (Setiadi, 2001). 

B.       Penentuan Sumber dan Jenis Bahan Pakan 
Pengadaan hijauan dan konsentrat yang akan digunakan dalam proses penggemukan harus ditentukan sejak awal, apakah akan menggunakan sumber-sumber dari luar lokasi atau mengusahakannya sendiri.  Jika lahan yang tersedia memungkinkan, pengadaan hijauan   lebih baik dilakukan sendiri dengan cara menanamnya.  Penanaman hijauan harus memperhitungkan kebutuhan sapi-sapi yang akan digemukan dan kapasitas produksi hijauan yang bersangkutan. 
Penanaman hijauan sendiri akan menigkatkan kebutuhan tenaga kerja untuk menanam,  merawat,  dan  memanen hijauan.  Jika bahan pakan diusahakan dari luar lokasi, faktor harga dan jarak tempuh  sumber ke lokasi harus
dipertimbangkan.  Untuk bahan pakan berupa konsentrat, lebih ekonomis menggunakan sumber dari luar, dan diusahakan memperoleh bahan yang ketersediaannya terjamin sepanjang tahun dengan tingkat harga yang terjangkau dan secara ekonomis masih menguntungkan. 
Penentuan jenis bahan pakan merupakan hal mutlak, karena berkaitan erat dengan ketersediaan bahan pakan dilokasi penggemukan.  Tingkat ketersediaan yang tinggi memudahkan peternak dalam memperoleh bahan-bahan pakan yang dibutuhkan dengan harga relatif murah.  Jika lokasi penggemukan merupakan sentra produksi padi, penggunaan jerami padi perlu dipertimbangkan.  Demikian pula penggunaan pucuk tebu di lokasi perkebunan tebu. 
Tingkat kecernaan jerami padi dan pucuk tebu yang rendah bisa disiasati dengan perendaman bahan pakan dalam larutan soda, penggunaan urea, urea molasses block (UMB), atau kombinasi dengan bahan pakan lain.  Untuk konsentrat, perlu dipertimbangkan jenis  bahan pakan yang tidak bersaing dengan manusia.  Lebih baik lagi jika bahan pakan berupa konsentrat limbah, sehingga harganya relatif murah, misalnya dedak padi, ampas tahu, ampas kecap dan ampas bir (Abidin, 2002).

C.        Penentuan Rasio Pemberian Hijauan dan Konsentrat
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa program penggemukan hanya dengan mengandalkan bahan pakan berupa hijauan, kurang memberikan hasil yang optimum dan membutuhkan waktu cukup lama.  Salah satu cara mempercepat proses penggemukan memerlukan kombinasi pakan antara hijauan dan konsentrat (Abidin, 2002). 
Ernawati dan Ulin Nuschati (2006) mengatakan, pemenuhan  kebutuhan protein dan energi yang seimbang pada sapi yang digemukkan tidak bisa dipenuhi hanya dari pakan hijauan saja tetapi peranan pakan konsentrat sangatlah penting. Hal ini disebabkan pakan konsentrat merupakan pakan sumber protein dan energi, sedangkan hijauan merupakan sumber pakan berserat. Oleh karena itu dalam menyusun ransum untuk penggemukan sapi sebaiknya terdiri dari pakan kasar/hijauan  dan  pakan  konsentrat,  tujuannya  adalah  untuk saling melengkapi
kekurangan zat gizi satu sama lain dari bahan-bahan pakan sehingga penampilan ternak dapat optimal. Sesuai dengan hasil penelitian Zulbardi et al., (1995) peningkatan kandungan energi erat kaitannya dengan peningkatan kandungan protein pakan guna mendapatkan efisiensi pertumbuhan bobot badan ternak. Beberapa penelitian membuktikan bahwa pemberian konsentrat yang tinggi merupakan salah satu upaya untuk mempercepat proses pertumbuhan, produksi karkas dan daging dengan kualitas tinggi serta meningkatkan nilai ekonominya (Sumadi et al., 1994, Soeparno, 1998).
Perbandingan pemberian pakan hijauan dan konsentrat untuk penggemukan sapi secara komersial antara 30% : 70% atau maksimal 20% : 80% (Nuschati, 2003). Namun secara financial pemberian konsentrat dianggap ekonomis apabila penambahan pendapatan lebih tinggi atau setara dengan penambahan biaya dari jumlah pemberian konsentrat yang diberikan (Ernawati dan Nuschati, 2006).
Penelitian lain membuktikan urutan pemberian pakan jika berpengaruh besar terhadap proses penggemukan sapi.  Pemberian konsentrat terlebih dahulu sebelum pemberian hijauan memberikan hasil pertambahan berat badan yang lebih baik daripada sebaliknya.  Secara faktual, pemberian konsentrat terlebih dahulu bertujuan untuk memberikan energi yang lebih besar kepada mikroba rumen, mikroba rumen memiliki energi yang cukup besar untuk mencernanya (Abidin, 2002).

D.        Komposisi  Zat  Makanan
Secara umum, komposisi zat-zat makanan (dalam persentase bahan kering) yang dibutuhkan oleh sapi dan harus tersedia di dalam pakannya sebagai berikut.
1.         Karbohidrat Sebanyak 60-75%
Dengan adanya rumen, karbohidrat yang dibutuhkan oleh ruminansia berasal dari sumber yang lebih bervariasi, yaitu selulosa, hemiselulosa, pectin, dan sedikit pati.  Selulosa merupakan bahan organik yang terdapat pada tanaman dalam jumlah besar. 
Seluruh sumber karbohidrat di atas akan diurai dan sebagian besar akan diubah menjadi asam lemak mudah terbang (VFA = Volatyl Fatty Acid).  Selain kandungan pakan yang dikonsumsi, kebutuhan karbohidrat dipasok dari protozoa didalam rumen, yang merupakan sumber polisakarida yang siap diserap.
2.         Protein Kasar Sebanyak 12%
Kebutuhan protein dari ruminansia hanya didasarkan pada kadar protein kasar.  Pengukuran protein kasar pada bahan pakan didasarkan pada suatu analisis yang mengukur jumlah N di dalam pakan tersebut.  Hal ini disebabkan keberadaan mikroba di dalam rumen yang mampu mendegradasi protein menjadi ikatan-ikatan peptida dan gas methan (NH3), serta menyusunnya menjadi asam-asam amino, baik esensial maupun non-esensial. 
Keberadaan mikroba rumen inilah yang menyebabkan ruminansia mampu mengonsumsi non-protein nitrogen, seperti urea, walaupun dalam jumlah terbatas, yaitu hanya 1 persen dari total bahan kering yang diberikan.  Sama halnya dengan karbohidrat, kebutuhan protein bagi ruminansia juga bias dipasok dari bakteri dan protozoa di dalam rumen.  Protozoa bahkan memiliki kandungan asam amino yang bersifat esensial bagi ruminansia. 
3.              Lemak Kasar Sebanyak 3-5%
Di dalam rumen, lemak akan terdegredasi menjadi partikel-partikel lemak.  Dalam jumlah terbatas, partikel-partikel lemak, seperti gliserol, akan membentuk propionat dengan bantuan bakteri di dalam rumen.  Dalam jumlah yang berlebihan, partikel-partikel tersebut dapat menurunkan aktifitas, bahkan mematikan bakteri selulolitik.  Selain itu, partikel ini akan melapisi selulosa, sehingga enzim selulase I dan II tidak dapat bekerja. 
4.              Unsur-unsur Mikro Berupa Vitamin dan Mineral
Vitamin  dan mineral dibutuhkan dalam jumlah yang tidak terlalu banyak, dan umumnya dapat terpenuhi dengan pemberian pakan yang bervariasi.  Hal ini bisa dimengerti karena adanya efek substitusi (saling melengkapi) antara satu bahan pakan dan bahan lainnya.  Di samping itu, ruminansia dapat membentuk sendiri vitamin B kompleks dan vitamin K dengan bantuan mikroba rumen. 
Tingkat konsumsi ruminansia umumnya didasarkan pada konsumsi bahan kering pakan, baik dalam bentuk hijauan maupun konsentrat.  Persentase konsumsi bahan kering memiliki grafik meningkat sejalan dengan pertambahan berat badan sampai tingkat tertentu, kemudian mengalami penurunan.  Rata-rata konsumsi bahan kering bagi ruminansia adalah 3-4% dari berat badan.  Meskipun tingkat konsumsi didasarkan pada kadar bahan kering bahan pakan, ada faktor pembatas, yaitu kapasitas rumen dalam mengolah bahan pakan, yang nilainya 10% dari berat badan sapi. 
Dengan mengetahui beberapa ciri di atas, pengusaha penggemukan sapi bias menentukan, menyediakan, dan memformulasikan kebutuhan pakan untuk sapi-sapi yang akan digemukan.  Hal ini penting diketahui mengingat dari pakan yang dikonsumsi sapi-sapi mendapatkan energi yang akan dipergunakan untuk hidup, pertumbuhan  (dalam hal ini pembentukan jaringan otot dan pelemakan), laktasi, kerja, dan sebagainya.  Jika sapi-sapi mengalami kekurangan konsumsi pakan, pertumbuhannya akan terhambat.  Dalam kondisi ekstrim, yakni pakan tidak mencukupi untuk sekedar hidup pokok, akan terjadi degradasi atau penguraian lemak, karbohidrat, dan protein, yang menyebabkan penurunan berat badan (Abidin, 2002).

E.  Teknologi Penggemukan Sapi
Penggemukan sapi adalah usaha pemeliharaan ternak dengan cara mengandangkan secara terus-menerus selama periode tertentu yang bertujuan meningkatkan produksi daging dengan mutu yang lebih baik sebelum ternak dipotong (Sugeng, 1996; Soeparno, 1998; Nuschati et al., 2000).  Untuk itu kebutuhan nutrisinya harus terpenuhi dengan baik, sehingga mampu memacu peningkatan bobot badan sapi dalam waktu singkat (Ernawati dan Nuschati, 2006).
Sistem penggemukan sapi di Indonesia dikenal dengan sistem kereman.  Penggemukan sapi dengan sistem kereman dilakukan dengan  cara   menempatkan
sapi-sapi  dalam  kandang  terus-menerus selama  beberapa bulan.  Sistem ini tidak
begitu berbeda dengan penggemukan sapi dry lot, kecuali tingkatnya yang masih sangat sederhana.  Pemberian makan dan air minum dilakukan dalam kandang yang sederhana selama berlangsungnya proses penggemukan.  Pakan yang diberikan terdiri dari hijauan dan konsentrat dengan perbandingan yang tergantung pada ketersediaan hijauan dan pakan konsentrat.  Apabila hijauan tersedia banyak maka hijauanlah yang diberikan lebih banyak diberikan.  Sebaliknya, apabila pakan konsentrat mudah diperoleh, tersedia banyak, dan harganya relatif murah maka pemberian konsentratlah yang diperbanyak.  Namun, ada pula peternak yang hanya memberikan hijauan saja tanpa pemberian konsentrat ataupun pakan lainnya.  Sudah barang tentu hal ini dapat dilakukan pada daerah-daerah yang masih potensial menyediakan hijauan. 
Pengertian konsentrat dalam penggemukan sapi sistem kereman adalah sederhana, yakni hanya terdiri dari satu jenis dan paling banyak dua jenis bahan pakan saja.  Misalnya, konsentrat itu hanya berupa dedak padi saja atau ampas tahu, ataupun hasil ikutan industri pertanian lainnya.  Adapula yang membuat konsentrasi itu berupa campuran dedak padi dengan ubi kayu yang dilumatkan dan kemudian direndam dalam air panas dalam beberapa saat.
Penggemukan sapi dengan sistem kereman ini terdapat di Indonesia dan banyak dilakukan didaerah-daerah Magetan, Wonogiri, Wonosobo, Lamongan, Bondowoso, Banyuwangi, Sulawesi Selatan, dan Aceh.  Ada beberapa faktor yang mendukung berkembangnya usaha penggemukan dengan sistem kereman di beberapa daerah, yaitu :
1.    Bakalan sapi untuk penggemukan cukup tersedia dan relatif mudah diperoleh,
2.    Ketersediaan hijauan, termasuk limbah pertanian, cukup potensial dan tersedia sepanjang tahun,
3.    Ketersediaan  ikutan industri pertanian seperti ampas tahu, ampas brem, ampas nanas, dan sebagainya cukup potensial dan tersedia sepanjang tahun,
4.    Kotoran sapi berupa pupuk kandang sangat diperlukan untuk memupuk tanaman pertanian penduduk.  Pada umumnya sapi bakalan yang digunakan untuk penggemukan dengan sistem kereman adalah sapi jantan yang telah berumur sekitar 1-2 tahun dalam kondisi kurus.  Lama penggemukan berkisar 3-6 bulan.
 Pertambahan berat badan yang dijadikan pada penggemukan sapi sistem kereman sangat bervariasi dan terutama tergantung pada pakan atau ransum yang diberikan. 
5.    Penelitian yang telah dilakukan di daerah Wonogiri, misalnya, dengan pemberian ransum berupa hijauan, konsentrat jadi, dan ditambah dengan ampas brem akan mendapatkan pertambahan bobot rata-rata 0,8 kg/hari.  Dari penelitian yang telah dilakukan pada sapi peternakan ongol dan jantan sapi perah juga diperoleh rata-rata pertambahan bobot masing-masing adalah 0,52 kg/hari dan 0,4 kg/hari dengan hanya memberikan hijauan saja tanpa ada penambahan konsentrat.  Apabila ransum yang diberikan hanya hijauan saja maka pertambahan bobot badan yang dicapai tidak akan setinggi pertambahan bobot badan yang mendapat ransum berupa hijauan dan konsentrat (Siregar, 2008). 

F.  Menaksir Berat Badan Sapi
Penimbangan adalah cara terbaik dalam menentukan berat badan sapi bakalan.  Namun, ini tidak praktis dilakukan di pasar hewan.  Agar tidak terjadi kesalahan dalam menaksirkan berat badan sapi, ada baiknya dipertimbangkan untuk bekerja sama dengan pedagang hewan yang sudah berpengalaman (blantik) dengan imbalan (fee) untuk setiap ekor yang dibeli.  Hal ini didasarkan pada pengalaman bertahun-tahun si blantik, yang mampu menaksir berat badan sapi tanpa menimbangnya. 
Disamping itu, digunakan rumus tertentu, seperti scrhool (Denmark) yang menggunakan variabel lingkar dada dan panjang badan.  Lingkaran dada diukur dengan cara melingkarkan meteran kain di badannya,  tepatnya di belakang kaki depan.  Panjang badan diukur dari bahu sampai sisi pangkal ekor.  Penaksiran berat badan memiliki bias antara 5-10%. 
Rumus Schrool
Berat Badan   =
LD = Lingkar Dada (cm)
Rumus modifikasi
Berat Badan =
LD = Lingkar Dada (cm)
PB = Panjang Badan (cm)
Keterangan :
Ø  Lingkar dada diukur melingkar pada posisi di belaakang tonjolan pundak sapi di bagian atas dan bagian belakang kaki depan.
Ø  Panjang badan diukur memanjang dari bahu sampai tonjolan tulang duduk.
(Abidin, 2002)

1 komentar:

  1. terimakasih informasinya..sangat bermanfaat.. :)
    tetap berkarya

    BalasHapus